Jumat, 09 April 2010

Televisi dan ideologi
Dra. Umdatul Hasanah, M.Ag.


Pendahuluan
Media massa diyakini punya kekuatan yang dahsyat untuk mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Bahkan masyarakat bisa mengarahkan masyarakat seperti apa yang akan dibentuk di masa yang akan datang. Media massa mampu mengarahkan , membimbing dan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Oleh karenanya media massa berperan dalam memajukan peradaban ummat manusia.
Teknologi komunikasi dan media massa telah mengalami perkembangan yang pesat, di awali dari media massa cetak, elektronik radio dan televisi sebuah kotak hitam yang ajaib, bahkan sekarang media massa (dunia maya).
Pembahasan
Falsafah - televisi
Televisi baru dikenal sekitar tahun 1940-an di ingeris dan berkembang di Amerika sejak tahun 1946. Pada sidang PBB yang pertama tahun 1946 ada peristiwa yang aneh, menarik dimana peserta yang tidak bisa melihat secara langsung atau terhalang tembok bisa menyaksikan proses persidangan secara utuh dan jelas melalui televisi, itulah awal televisi bisa diakses publik. Di indonesia televisi baru muncul pada tahun 1962 dengan studionya yang sederhana di komplek senayan.
Televisi sebagai bagian dari media massa menjalankan fungsi dan peranannya sebagai (pers). Sebagai bagian dari masyarakat ia mempengaruhi masyarakat dan masyarakat juga mempengaruhi keberadaannya. Ia mempengaruhi masyarakat karena ia bertindak sebagai komunikator massa. Sebagai bagian dari pers, televisi juga memiliki peran sebagai kontrol sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka ia sangat berpengaruh terhadap perjalanan dan pelaksanaan pemerintahan. Namun demikian pemerintah juga mampu mempengaruhi media massa dengan cara memasang rambu-rambu berupa peraturan dan perundang-undangan agar media massa bisa ditundukkan.
Dengan hubungan yang demikian maka falsafah media massa termasuk televisi selalu identik dengan kehidupan sosial, budaya bahkan politik dan ideologi suatu bangsa. Itu sebabnya sifat media massa antara satu negara dengan negara lainnya selalu berbeda.
Setidaknya ada enam falsafah pers dalam hubungannya dengan ideologi suatu negara.
1. Liberal democration pres (pers liberal)
Pers yang bersifat liberal digunakan bagi pers yang berada dalam suatu negara yang menganut demokrasi liberal yaitu kebebasan yang sebebas-bebasnya, di mana kebebasan individu sangat diutamakan. Dalam demokrasi liberal kekbebasan pers atau media dipersepsikan sebagai kebebasan tanpa batas. Artinya kritik dan komnetar media dilakukan pada siapa saja termasuk kepada kepala negara, bahkan kepada agama dan lain-lain. Negara-negara Eropa, Ameriaka dan Australia merupakan negara penganut ideologi demokrasi liberal.
(kasus cartun penghinaan nabi Muhammad di Den Mark)
2. Comunnis Press (pers Komunis)
Pers komunis umumnya berada di negara-negara sosialis yang menganut ideologi komunis seperti China, Rusia, Pers komunis terbentuk karen alartar belakang ideologi negaranya yang menitik beratkan kekuasaan tunggal yaitu partai komunis. Dengan demikian suatu media harus sama dengan suara komunis, dan pelaku media merupakan orang-orang yang loyal pada partainya (komunis).

3. Authoritarian Pres (pers otoriter)
Pers otoriter lahir dari negara penganut fasis yang menentukan pemerintah berkuasa mutlak. Intensitas pers otoriter hanya untuk kepentingan penguasa. Untuk itu segala cara dilakukan oleh pemerintah agar pers tidak mengeritik atu mengkontrol pemerintahannya. Pers otoriter lahir pada saat pemerintaha Nazi Adolf Hitler di Jerman yang sangat terkenal kekejamannya.pers otoriter juga berlaku pada negara-negara yang menganut sistem kerajaan, di mana kekuasaan raja merupakan memiliki kemutlakan dalam menentukan dan mengatur termasuk mengatur pers.
4. Freedom and Responsibility Press( pers bebas dan bertanggung jawab). Istilah ini muncul dan merupakan slogan dari negara barat yang menginginkan pers memiliki kebebasan namun juga tanggung jawab, namun dalam demikian kebebasan dan tanggung jawab bersifat relatif tergantung pada bobot yang dianut oleh masing-masing negara.
5. Development Press (pers Pembangunan)
Istilah pers pembangunan dimunculkan oleh kalangan media dari negara-negara berkembang. Alasannya, negara berkembang sedang giat-giatnyamelakukan pembangunan. Masing-masing negara mempunyai arah dan tujuan pembangunan yang berbeda, Wilbur Schramm memberikan batasan terhadap pers pembangunan sebagai berikut :
a. Pers harus menciptakan iklim pembangunan di negaranya
b. Pers harus mampu memperluas cakrawala bagi masyarakatnya
c. Pers harus mampu mengarahkan perhatian masyarakat menjadi perilaku yang lebih baik dan maju.
d. Pers harus mampu menetapkan norma sosial
6. Five Foundation Press (pers Pancasila)
Pers Pancasila dilahirkan oleh bangsa Indonesia berdasarkan falsafah dan ideologi indonesia yaitu Pancasila. Pers Pancasila adalah pers yang melihat segala sesuatu harus proporsioanl dan mencari keseimbangan dalam informasinya untuk semua pihak sesuai dengan konsensus demokrasi pancasila.
Munculnya televisi adalah sebuah keniscayaan kehadirannya. Kemunculan kotak ajaib itu merupakan konsekwensi perkembangan teknologi komunikasi yang telah membawa perubahan-perubahan dalam masyarakat, begitu dahsyatnya perubahan yang diakibatkan oleh televisi. Dari soal penjadwalan aktifitas (diawali dan diakhiri dengan menonton televisi). Membeli barang karena diiklankan televisi, menilai orang karena disiarkan televisi, berpenampilan , model karena ditayangkan ditelevisi. Hampir – hampir masyarakat mendasarkan pola-pola kehidupannya berdasarkan rujukan dari televisi.
Keberadaan televisi di samping tidak bisa dilepaskan dari ideologi suatu bangsa, ternya televisi juga berpengaruh terhadap munculnya ideologi-ideologi baru. Bahkan Televisi itu sendiri meminjam istliah Goerge Gebner seorang pakar dan peneliti televisi dari Amerika menyebut televisi sebagai “ agama masyarakat industri.” Khutbahnya didengar dan disaksikan jamaam (pemirsa) di belahan dunia, ritus-ritusnya diikuti dengan penuh khidmat dan rumah-rumah ibadahnya tersebar sampai ke peloksok-peloksok.
Televisis seringkali disebut atau dianggap sebagai “agama baru “ oleh karena pengaruhnya yang demikian dahsyat. Pesan-pesannya menggetarkan membuat orang tertawa, menangis, terkejut, sedih bahkan terharu dan simpatik bahkan mempengaruhi alam nawah sadar manusia. Khutbah televisi lebih mempesona di banding khutbah khatib di masjid-masjid. Khutbah televisi berupa iklan-iklan yang masuk dan melingkari semua kebutuhan kita bahkan sesuatu yang sesungguhnya bertentangan dengan budaya dan norma-norma kita sekalipun masuk di dalamnya.
Televisi sebagaimana” agama” dapat memberikan legitimasi kepada para penguasa, ia mentahbiskan penguasa moderen. Televisi juga memegang kekuatan ekonomi. Melalui perputaran iklan yang menyedot pemirsa untuk sadar atau tidak sadar “ menginfakkan” menggelontorkan uangnya oleh karena diputar dan disiarkan televisi. Televisi juga telah merubah pola hidup, sesuatu yang mestinya diraih dengan berproses dan kerja keras melalui televisi semuanya jadi instan.
Di samping itu televisi juga breperan dalam menyiarkan ideologi tertentu. Salah satu contoh, kejadian tahun 1992 dihebohkan dengan munculnya film Promised land, sohies choiis, skcandal in small towm yang disiarkan TVRI dan RCTI, di mana film tersebut merupakan propaganda zionis Israel. Hal itu baru ketahuan setelah Budayawan kita, Ridwan saidi menulis protes tersebut melalui surat koran pelita dan Republika. Kemudian disusul dengan reaksi dan protes masyarakat yang menyesalkan kru televisi yang tidak selektif dan itu dikaui oleh direktorat televisi Adi Kusno yang meminta maaf kepada masyarakat akibat keteledoran dan kurang memiliki ketajaman visi di ara petugas atau kru televisis itu.
Salah satu kekuatan televisi adalah kemampuannya untuk menyajikan realitas kedua. Lewat layar kecil yang berfungsi sebagai jendela dunia, para pemirsa diarahkan untuk mendefinisikan situasi sesuai dengan kehendak elit penguasa informasi.
Keberadaan televisi melebihi peran-perannya sebagai media massa yang tidak hanya menghibur, mendidik, menyebar luaskan informasi tapi juga mempengaruhi dan menjadi ‘refrensi” dalam berperilaku. Televisi sebagai bagian dari kemajuan teknologi komunikasi yang memiliki keunggulan – keunggulan tertentu, tidak hanya suara namun juga gambar (audio visual). Sebagai media massa yang memiliki pengaruh besar tidak hanya pengaruh positif tapi juga negatif. Televisi seperti halnya pisau yang bisa membawa manfaat namun juga mudharat, tergantung bagaimana masyarakat menggunakannya.
Refrensi :
1. Onong Uchyana, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi
2. Phil Astrid S., Filsafat Komunikasi
3. Jalaludin Rahmat, Islam Aktual
4. Nurudin, jurnalisme masa Kini,
5. Masduki (ed), Media, jurnalisme dan Budaya populer

0 komentar:

About Me

Foto Saya
Serang, Banten, Indonesia
iTV merupakan pendek kata dari IAINTV, Siaran Televisi Komunitas Kampus Institut Agama Islam Negeri "Sultan Maulana Hasanuddin" Banten